Sabtu, 31 Desember 2016

Debus Kesenian Bela Diri Banten

Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa. Misalnya kebal senjata tajam, kebal air keras dan lain- lain. Debus dalam bahasa Arab berarti tongkat besi dengan ujung runcing berhulu bundar, dan pada masa sekarang Debus sebagai seni beladiri yang banyak dipertontonkan untuk acara kebudayaan ataupun upacara adat.

Dan Debus mulai dikenal pada masyarakat Banten sebagai salah satu cara penyebaran agama Islam, namun ada juga yang menyebutkan Debus berasal dari daerah Timur Tengah bernama Al-Madad yang diperkenalkan ke daerah Banten ini sebagai salah satu cara penyebaran Islam pada waktu itu, dan yang lainnya menyebutkan bahwa Debus berasal dari tarekat Rifa’iyah Nuruddin al-Raniri yang masuk ke Banten oleh para pengawal Cut Nyak Dien (Tahun 18481908).

Sertifikat seminar nasional dan bedah buku


Jumat, 30 Desember 2016

SUZUKI SATRIA FU 150 LOVERS (SSFL INDONESIA)

Yang namanya mau tambah teman, kan ngga ada salahnya kalau kita berkenalan dengan SSFL Indonesia (Suzuki Satria F150 Lovers Indonesia). SUZUKI SATRIA FU 150 LOVERS (SSFL INDONESIA) adalah suatu forum kendaraan (SUZUKI) khususnya variant SATRIA FU 150 yang independent dan keanggotaannya tidak mengikat.

SSFL INDONESIA adalah forum BEBAS namun tetap pada koridor KETENTUAN forum (Internal SSFL INDONESIA) yang bertujuan untuk menumbuh kembangkan forum agar kendaraan (SUZUKI) khususnya variant SATRIA FU 150 di kenal DUNIA (keinginan/hobby individu).

Koridor KETENTUAN (Internal SSFL INDONESIA) diatur lebih lanjut dalam AD/ART SSFL INDONESIA.

Berikut Pengertian tentang SSFL INDONESIA:

  1. SSFL INDONESIA bukan Club atau Community melainkan LOVERS brand Suzuki salah satunya Satria fu 150
  2. SSFL INDONESIA TIDAK me-recruit dan sifat keanggotaan tidak terikat,no senioritas,no diklat.
  3. SSFL INDONESIA bertujuan untuk mengenalkan kepada dunia tentang product kendaraan pabrikan SUZUKI khususnya variant Satria Fu 150;
  4. Dalam logo SSFL INDONESIA tidak tercantum kata Club atau Comunity melainkan LOVERS yang artinya diperluas namun tidak terbatas hanya variant Satria Fu 150 saja yang berhak, tetapi semua Rider variant kendaraan pabrikan lain yang ada di dunia berhak LOVERS ke product SUZUKI (FU Lovers) melalui forum SSFL INDONESIA;
  5. Perwakilan daerah adalah sebagai wadah untuk mempermudah kopi darat (kopdar) antar sesama FU Lovers yang ada di forum SUZUKI SATRIA FU 150 LOVERS, BUKAN sebagai pengurus wilayah yang bersifat resmi dan tidak mewajibkan/bertujuan untuk me-recruit individu sebagai anggota tetap
  6. SSFL INDONESIA mensupport semua kegiatan positif dari semua Club atau Community khususnya yang berbenderakan SUZUKI
  7. Apabila terjadi penyalahgunaan forum SSFL INDONESIA oleh oknum yg tidak bertanggung jawab, maka SSFL INDONESIA tidak bertanggung jawab atas tindakan apapun baik tindakan/perbuatan yang bersifat melawan hukum
  8. Forum online SSFL INDONESIA bisa digunakan untuk Share bertukar pikiran tentang Modifikasi Motor atau informasi otomotif up to date.
  9. Jadikan kepentingan pribadi dan keluarga menjadi no 1 , kepentingan pekerjaan menjadi no.2 dan SSFL menjadi kesekian kalinya.


Salam Hangat,
SSFL INDONESIA

Arti Logo UNTIRTA


Arti dari logo Untirta adalah sebagai berkut:
  1. Segi lima yaitu bentuk dasar yang melambangkan Pancasila.
  2. Menara Masjid Banten yang berdiri kokoh dan kuat melambangkan keteguhan iman, pendirian yang kokoh dan tujuan yang tinggi, mulia, dan dinamis.
  3. Beringin yang rindang berdiri tepat di tengah-tengah sebagai pengayom, melambangkan keadilan yang didambakan setiap insan.
  4. Empat akar pohon beringin yang terjuntai ke bawah melambangkan Undang-Undang Dasar 1945.
  5. Tiga cabang akar beringin melambangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat).
  6. Dua bulu angsa yang sebagai alat tulis pada zaman dahulu yang melambangkan simbol pendidikan.
  7. Dua garis merah di bawah adalah dua aliran sungai Ciujung dan Cidurian yang sejak zaman pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa digunakan untuk pengairan guna kemakmuran daerah, melambangkan suatu harapan agar para mahasiswa Untirta dapat mengembangkan tenaga dan pikirannya untuk kemakmuran daerah.

Arti dari warna yang ada di lambang Untirta adalah sebagai berikut:
  1. Putih melambangkan kesucian dan kebersihan hati yang murni.
  2. Kuning keemasan melambangkan keagungan dan kejayaan.
  3. Merah melambangkan keberanian.
  4. Biru melambangkan kejernihan suasana dengan keaslian watak serta kesetiaan.
  5. Hijau melambangkan kesegaran, kesehatan, dan kesuburan.
  6. Hitam melambangkan kekuatan jiwa.

Sejarah Untirta (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa)


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dimulai dengan berdirinya Yayasan Pendidikan Tirtayasa pada tanggal 1 oktober 1980 berdasarkan Akte Notaris No: 1 Tahun 1980, kemudian dilakukan penyempurnaan dan dikukuhkan kembali dengan akte Notaris Ny. R.Arie Soetardjo, Nomor 1, Tanggal 3 Maret 1986.
      Kata Tirtayasa (Bahasa Sansekerta yang berarti Air Mengalir) diambil dari nama Pahlawan Nasional yang berasal dari Banten, yaitu Sultan Ageng Tirtayasa (Kepres RI Nomor: 045/TK/1070). Nama Asli Sultan Ageng Tirtayasa adalah Abul Fatih Abdul Fatah, pewaris ke-IV tahta Kesultanan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa dianugerahi tanda jasa Pahlawan Nasional karena dengan gigih menentang penjajahan Belanda dan berhasil membawa kejayaan dan keemasan Kesultanan Banten.
     Langkah awal Yayasan Pendidikan Tirtayasa mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) pada tahun 1981 disusul dengan pendirian Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) pada tahun 1982. Berbarengan dengan pendiran STKIP, Yayasan Krakatau Steel Cilegon mendirikan SekolahTinggi Teknik (STT) yang selanjutnya STT bergabung dengan Yayasan Pendidikan Tirtayasa  untuk persiapan berdirinya Universitas Tirtayasa Serang-Banten.
      Universitas Tirtayasa Serang Banten merupakan merupakan penggabungan dari STIH, STT dan STKIP berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud RI Nomor; 0596/0/1984, tanggal 28 November 1984, maka berubahlah status masing-masing sekolah tinggi menjadi Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
Seiring dengan harapan masyarakat Banten, dari tahun ke tahun Universitas Tirtayasa mengembangkan pendirian fakultas dan program studi baru ditandai dengan berdirinya Fakultas Pertanian berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud RI Nomor: 0123/0/1989, tanggal 8 Maret 1989, dan Fakultas ekonomi dengan Surat Keputusan Mendikbud Nomor: 0331/0/1989, tanggal 30 Mei 1989.
      Perubahan sosial politik yang terjadi di Indonesia telah ikut mempengaruhi perubahan yang terjadi pada Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Didasari oleh perkembangan Untirta sebagai Perguruan Tinggi Swasta yang kurang signifikan dan spirit era reformasi  telah mendorong Pimpinan Universitas dan para Pimpinan Fakultas di lingkungan Universitas Tirtayasa serta Pengurus Yayasan Pendidikan Tirtayasa dan dukungan para tokoh Banten mengusulkan penegerian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa kepada pemerintah pusat melalui Departemen Pendidikan Nasional. Selanjutnya pada tanggal 13 oktober 1999 keluarlah Keppres RI Nomor; 130/1999 tentang Persiapan Perguruan Tinggi Negeri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Atas kerja keras dan kesungguhan dari pimpinan Untirta dan pengurus Yayasan maka pada tahun 2001 berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor: 32 tanggal 19 maret 2001 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa secara resmi ditetapkan menjadi PerguruanTinggi Negeri definitif.
     Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sebagai perguruan tinggi negeri yang baru terus berupaya melakukan perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan, baik dibidang kelembagaan, akademik, maupun dibidang kemahasiswaan dan kerjasama.
      Perubahan mendasar dibidang organisasi dan tata kerja adalah dengan ditetapkannya Keputusan Mendiknas Nomor 023/J43/d.1/SK/IV/2003 dan Statuta Universitas Sultan Ageng Tirtayasa berdasarkan Keputusan Mendiknas Nomor 10 tahun 2007. Demikian pula perubahan dan perbaikan dibidang akademik khususnya pendirian fakultas dan jurusan-jurusan baru, pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, pengembangan dan peningkatan kualitas dosen dan tenaga pendidikan lainnya, pengembangan ICT untuk menunjang pendidikan dan pelayanan akademik prima, pengembangan dan peningkatan sarana perpustakaan menuju e-library dan e-jurnal penguatan atmosfer akademik di kampus, serta peningkatan kualitas pendidikan melalui sistem penjaminan mutu dan evaluasi diri (Quality Assurance and Self evaluation).
      Universitas Sultan Ageng Tirtayasa saat ini menyelenggarakan program pendidikan akademik dan program pendidikan vokasi. Program Pendidikan Akademik terdiri atas Program Pendidikan Sarjana(S1) sebanyak 6 fakultas dan 1 Program Pendidikan Megister ( Pascasarjana), yaitu (1) Fakultas Hukum, (2) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, (3) Fakultas Teknik, (4) Fakultas Pertanian, (5) Fakultas Ekonomi, (6) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan (7) Pascasarjana. Jurusan/Program Studi yang saat ini dimiliki sebanyak 21 Prodi untuk Program Sarjana dan 3 Prodi untuk Program Megister dan Program Diploma III Ekonomi dengan rincian :
      Program Sarjana (S1) meliputi : FH 1 jurusan ( Jurusan Ilmu Hukum ); FKIP 3 Jurusan dengan 7 Prodi (Jurusan Ilmu Pendidikan meliputi Prodi PLS, PGSD dan PGPAUD; Jurusan Pendidikan Bahasa meliputi Prodi Diksastrasia dan Bahasa Inggris; Jurusan IPA meliputi Prodi Matematika dan Biologi); FT 5 Jurusan ( Jurusan T. Mesin, T. elektro, T. Sipil, T. Kimia; T. Industri; dan T. Metalurgi); FAPERTA 3 Jurusan ( Jurusan Agribisnis; Agroteknologi; dan perikanan); FE meliputi 3 Jurusan ( Jurusan manajemen; Jurusan Akuntansi; Jurusan Ekonomi Pembangunan); FISIP Meliputi 2 Jurusan ( Jurusan Ilmu Administrasi Negara dan Ilmu Komunikasi). Fakultas Pascasarjana menyelenggarakan Program Megister (S2) dengan 3 Program Studi, yaitu (Prodi Teknologi Pembelajaran,  Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Ilmu Hukum).
      Selain Program Pendidikan Akademik sebagaimana tersebut di atas, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa juga menyelenggarakan Program Pendidikan Vokasi yaitu Program Diploma III. Fakultas yang menyelenggarakan Program Diploma III, yaitu Fakultas Ekonomi terdiri atas Prodi Akuntansi,  Prodi Marketing/Pemasaran,  Prodi Perpajakan, Prodi Keuangan dan Perbankan. Fakultas Teknik dengan 1 Prodi yaitu Prodi Teknik Komputer dan Multimedia. Program Studi Teknik Komputer dan Multimedia pada tahun akademik 2011/2012 dipindahkan ke jenjang Sarjana (S1) program studi lain di lingkungan Fakultas Teknik.
Sumber daya manusia dan mahasiswa yang dimiliki Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sampai dengan bulan Agustus 2012 terdiri atas 498 orang Dosen PNS, dan 177 tenaga Administrasi PNS.

ARTI LAMBANG KOTA SERANG



1.      Bentuk dasar logo = perisai segi 6 (enam), melambangkan:
  • Awal berdirinya kota serang dibentuk oleh 6 (enam) kota kecamatan;Kasemen, Taktakan, Cipocok Jaya,Serang, Walantaka dan Curug.
  • 6 (enam) Rukun Iman :
  • Menunjukan komitmen pemerintahan kota Serang yang dalam menjalankan kepemerintahannya tidak akan lepas dari koridor agama.
  • Menunjukan kereligiusan masyarakat kotanya dan kehidupan bermasyarakat yang selalu berlandaskan pada agama. 
  • Menunjukan kereligiusan masyarakat kotanya dan kehidupan bermasyarakat yang selalu berlandaskan pada agama. 
  • Kegigihan dan ketahanan masyarakat Banten dalam memperjuangkan kemerdekaannya ada masa penjajahan. 
  • Kegigihan dan ketahanan masayarakat kota Serang dalam menghadapi semua tantangan di masa depan

2.      Penjelasan Gambar:


  • Bintang segi 5 (lima),melambangkan Rukun Islam dan asas Ketuhanan yang Maha Esa
  • Gapura (Kaibon). Kaibon merupakan ciri khas Banten yang sudah menjadi bagian dari sejarah Banten dan dengan sendirinya merupakan ciri khas dan bagian tak terpisahkan dari kota Serang juga.
  • Gapura/pintu gerbang, menegaskan posisi kota Serang sebagai ibukota Provinsi Banten yang merupakan pintu gerbang Provinsi Banten.
  • Gapura/pintu gerbang berarti pintu gerbang menuju kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat kota Serang di semua bidang.


Si Jati yang memiliki Filosofi

   Aku orang jawa jadi filosofinya dari pohon jawa (sunan kali jati/kayu jati ), sudah kita ketahui  bahwa pohon jati merupakan salah satu pohon yang menghasilkan kayu dengan kualitas terbaik dan mahal harganya. Pohon jati banyak di cari untuk dijadikan furniture maupun bagian rumah yang berbahan kayu.
    Filosofi Jati yang pertama adalah : Biji Keras menghasilkan Kayu yang kuat. Biji merupakan awal mula (dasar) tumbuhnya sebuah pohon jati. Makin bagus biji yang kita tanam makan bagus kualitas pohon jati yang akan kita dapatkan. Begitu juga dalam kehdupan, kita harus mempunyai dasar yang kuat terutama tentang agama. Minimal kita harus mempersiapkan hati dan keprcayaan agar tidak goyah, karena zaman sekarang banyak yang mengaku sebagai nabilah, tuhanlah, untuk itu kita harus memperkuat keimanan kita.
   Filosofi Jati ke-II : Pohon jati tumbuh di daerah kering dan tandus, namun mampu menghasilkan kualitas kayu yang luar biasa. Pohon jati mampu beradaptasi dengan buruknya lingkungan tempat tumbuhnya. Filosofi ini mengajarkan bahwa dimanapun kita berada dan apapun buruknya keadaan kita, selalu ada celah dan peluang yang terbuka.
    Sepanjang kita mau berusaha serta beradaptasi dan belajar dari lingkungan sekitar maka kita akan tetap mendaptkan hasil tertentu. Disamping itu, jangan jadikan lingkungan sekitar kita ataupun beratnya permasalahan sebagai alasan untuk kita tidak dapat berkembang, kita harus mampu untuk berdaya dan berusaha secara maksimal dan optimal, seberat apapun masalah yang ada dan seburuk apapun keadaan kita dan lingkungan sekitar kita. Makin keras keadaan ataupun permasalahan yang kita hadapi, kita harus semakin yakin bahwa jika kita mampu melaluinya kita akan menjadi semakin besar
    Filosofi Jati ke III: Secara alami pohon jati memiliki daur yang lama untuk menghasilkan kualitas kayu yang baik.  Oleh karena tidak ada pohon jati cangkokan atau dari hasil stek untuk meperpendek proses pembentukan kayu yang bagus. Filosofi ini mengajarkan bahwa seseorang menjadi tangguh diperlukan proses dan waktu yang lama, bukan "KARBITAN" atau di "KARBITKAN". Tidak ada yang langsung bisa besar dalam menjalankan kehidupan, kita harus bersabar dan tetap belajar dengan proses yang ada, Lamanya proses sendiri juga tergantung dari daya upaya kita dalam menjalani proses tersebut. Jangan pernah menyerah kalaupun prosesnya lama yang penting kita juga harus pintar untuk mengamati dan belajar dari proses tersebut.

Rabu, 28 Desember 2016

Filsafat Patah Hati

Patah hati hanyalah kata lain dari jatuh cinta. Jatuh cinta dan patah hati, dua rasa yang diangap tidak sempurna. Keduanya tak sempurna karena apa yang membuatnya ada tak terpenuhi. Tanpa disadari ketika patah hati, kita disadarkan bentuk ideal yang membuat jatuh cinta sebelumnya.

Patah hati hanyalah penanda dimana kita tahu tepat bagaimana yang kita inginkan. Sakitnya hati merupakan kenyataan yang kita hadapi. Selalu ada pertanyaan mengapa begini dan begitu ? Pertentangan batin atas semua yang terjadi itu hanyalah mempertanyakan bentuk ideal yang tidak ditemukan dalam kondisi tersebut. Pertanyaan yang kita ketahui jawabannya dalam hati nurani.

Siapa yang salah dan benar bukalah hal yang penting dalam kondisi ini. Menyalahkan orang lain hanyalah ketidakmampuan mengevalusi diri.

Seandainya kita diberikan patah hati berarti kita diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Patah hati adalah cara sederhana Tuhan mengingatkam indahnya bentuk ideal. Sesuatu yang sempurna dan harus diperjuangkan. Jika patah hati itu datang kemarin berarti hari ini kita diberikan kesempatan untuk meraihnya hari ini. Namun bila ia datang hari ini, kita diminta menyempurnakannya besok.

Kita tak perlu munafik jika hati ini selalu mengharapkan bentuk yang ideal. Kalau hari ini kita berhenti untuk memperjuangkannya, kita hanya meraih sesuatu yang cacat. Jika kita melakukan ini ini berarti kita hanya menistakan diri ini.

Kita selalu mengagungkan manusia merupakan makhluk paling sempurna. Sayangnya disisi lain kita sering mengungkapkan manusia itu tidaklah sempurna. Ya atau tidak, kita sering mengatakan sesuatu yang bertolak belakang ini. Kita seperti hinggapi sebuah keraguan. Satu ketika, dengan lantang kita berkata bahwa manusia adalah makhluk sempurna, namun di kesempatan lain dengan mudah berkata kita makhluk tidak sempurna. Lantas mana yang benar ? Kita sendiri bangga mengatakan dua hal yang kontradiktif tersebut.

Dalam kitab suci pun, dengan tegas dikatakan manusia merupakan makhluk paling sempurna. Ia bukanlah malaikat yang hanya diberikan ketaatan. Manusia bukanlah jin yang hinggapi hawa nafsu. Tuhan pun memberikan jasad manusia berwujud, tidak seperti jin dari api atau malaikat dari cahaya. Kita diberikan tubuh yang lengkap dan sempurna dengan berbagai variasi. Tidaklah tuhan memberikan variasi dalam struktur yang sejenis tanpa maksud.

Jika ada diantara kita yang menampikkan Tuhan sebagai entitas segalanya, kita telah mendefinisikan diri sebagai manusia. Dengan melihat, mengamati dan berpikir akhirnya kita medefiniskan diri sebagai manusia. Kita bukanlah kelompok binatang yang lahir, hidup, beranak pihak dan mati. Kita pun bukan bagian dari mereka karena kita tak menghabiskan hidup untuk makan dan kawin. Manusia pun tak bisa dikelompokan sebagai tumbuhan yang mengakar dan tumbuh begitu saja. Kita punya kemampuan bergerak dan mengembangkan diri. Kaki yang dimiliki bukanlah akar yang menacap. Bertambahnya berat badan dan tinggi tidak lah menjadi pembenar persaman dengan tumbuhan. Otak ada untuk berpikir dan menganalisa semua itu dan mendefinisikan bahwa manusia bukan hewan atau bianatang. Hati ada untuk cermin diri.

Kesadaran tentang ketidaksempurnaan lambat laun lahir ketika kita menyadari tak semua hal mampu dilakukan sendiri. Sekedar untuk mandi sendiri ketika bayi kita tak mampu. waktu dan lingkungan yang akhirnya mengajarkan kita tentang semua hal. Kehidupan sosial tumbuh dan bekembang mendefiniskan diri ini. Kenyataan demikian yang menimbulkan pengharapan pada orang lain termasuk urusan hati.

Tak dapat diingkari ini merupakan bagian yang integral bahwa manusia sempurna secara individual namun kita tak lengkap tanpa orang lain. Akhirnya sempurna atau tidak bukanlah sesuatu yang kontradiktif karena kedua memberikan kesempatan utuh menjadi sempurna. Dalam konteks individu, kita diberikan kesempatan untuk bersyukur dengan kesempurnaan yang dimiliki dengan memaksimalkan segala seuatu yang melekat di badan.

Pada hal ketidaksempurnaan antar manusia, kita diminta untuk berusaha sempurna dalam hubungan sosial. Ketidaksempurnaan yang adalah sebuah kesempurnaan. Pada posisi ini manusia diminta untuk menyempurnakan

Masing - masing diantara kita adalah makhluk yang sempurna. Perbedaan yang kita miliki membuat semua terlihat tidak sempurna. Tanpa disadari perbedaan yang ada merupakan sebuah esensi yang ada bahwa hidup ini begitu sempurna. Jika semua diciptakan sama, hidup ini akan begitu membosankan.

Perasaan tidak sempurna hanyalah perasaan. Dengan bekal yang sempurna manusia diberikan kesempatan untuk menyempurnakan apa yang dirasakan tersebut. Dalam keyakinan penuh, tentunya Tuhan sebagai Supreme Causa telah melihatnya sebagai sebuah kesempurnaan.

sumber: http://bayuindrapratama.blogspot.com/2010/06/filsafat-patah-hati.html

Aliran Pluralisme

PLURALISME
Pluralisme (Pluralism) berasal dari kata Pluralis (jamak). Aliran ini menyatakan bahwa realitas tidak terdiri dari satu substansi atau dua substansi tetapi banyak substansi yang bersifat independen satu sama lain. Sebagai konsekuensinya alam semesta pada dasarnya tidak memiliki kesatuan, kontinuitas, harmonis dan tatanan yang koheren, rasional, fundamental.
Didalamnya hanya terdapat pelbagi jenis tingkatan dan dimensi yang tidak dapat diredusir. Pandangan demikian mencangkup puluhan teori, beberapa diantaranya teori para filosuf yunani kuno yang menganggap kenyataan terdiri dari udara, tanah, api dan air. Dari pemahaman di atas dapat dikemukakan bahwa aliran ini tidak mengakui adanya satu substansi atau dua substansi melainkan banyak substansi, karena menurutnya manusia tidak hanya terdiri dari jasmani dan rohani tetapi juga tersusun dari api, tanah dan udara yang merupakan unsur substansial dari segala wujud.
Para filsuf yang termasuk dalam aliran ini antara lain: Empedakles (490-430 SM), yang menyatakan hakikat kenyataan terdiri dari empat unsur, yaitu api, udara, air dan tanah. Anaxogoras (500-428 SM), yang menyatakan hakikat kenyataan terdiri dari unsur-unsur yang tidak terhitung banyaknya, sebab jumlah sifat benda dan semuanya dikuasai oleh suatu tenaga yang dinamakannodus yaitu suatu zat yang paling halus yang memiliki sifat pandai bergerak dan mengatur.
            Pada intinya masing-masing aliran memiliki argumen yang rasional. Dari apa yang telah diuraikan, pendapat atau pemikiran masing-masing filsuf dalam setiap aliran sangat dipengaruhi corak kehidupan atau latar belakang hidupnya. Sebagai contoh Thales, karena dia seorang saudagar yang banyak berlayar kenegeri Mesir, maka pemikiran yang diungkapkanya yaitu bahwa semuanya adalah air. Karena hidup Thales kesehariannya tidak pernah luput dari air atau dengan kata lain pengamatannya selalu dipenuhi dengan nuansa air. Mungkin alasan ini (corak pemikiran yang dipengaruhi latar belakang kehidupan) tidak bisa digeneralisasikan terhadap munculnya pemikiran-pemikiran para filosuf yang lain.
Dari ketiga aliran yang telah disebutkan seolah terdapat pertentangan yang begitu tajam tentang ”keadaanya”, tetapi ketika direnungkan dan dipahami lebih dalam bahwasanya ketiga aliran tersebut sejatinya bersifat komplementer, yang tidak mungkin meniadakan yang satu atas yang lainnya. Mungkin seperti itu. dan Pluralisme, yang pada intinya masing-masing aliran memiliki argumen yang rasional. Dari apa yang telah diuraikan, pendapat atau pemikiran masing-masing filsuf dalam setiap aliran sangat dipengaruhi corak kehidupan atau latar belakang hidupnya. Sebagai contoh Thales, karena dia seorang saudagar yang banyak berlayar kenegeri Mesir, maka pemikiran yang diungkapkanya yaitu bahwa semuanya adalah air. Karena hidup Thales kesehariannya tidak pernah luput dari air atau dengan kata lain pengamatannya selalu dipenuhi dengan nuansa air. Mungkin alasan ini (corak pemikiran yang dipengaruhi latar belakang kehidupan) tidak bisa digeneralisasikan terhadap munculnya pemikiran-pemikiran para filosuf yang lain.
Dari ketiga aliran yang telah disebutkan seolah terdapat pertentangan yang begitu tajam tentang ”keadaanya”, tetapi ketika direnungkan dan dipahami lebih dalam bahwasanya ketiga aliran tersebut sejatinya bersifat komplementer, yang tidak mungkin meniadakan yang satu atas yang lainnya. Mungkin seperti itu.

ALIRAN FILSAFAT HERMEUTIKA


1.      Asal-usul dan Defenisi Hermeneutika
Sebelum kita mendefinisikan filsafat hermeneutika, kita akan mengetahui terlebih dahulu asal-mula kata hermeneutika. Sudah umum diketahui bahwa dalam masyarakat Yunani tidak terdapat suatu agama tertentu, tapi mereka percaya pada Tuhan dalam bentuk mitologi. Sebenarnya dalam mitologi Yunani terdapat dewa-dewi yang dikepalai oleh Dewa Zeus dan Maia yang mempunyai anak bernama Hermes. Hermes dipercayai sebagai utusan para dewa untuk menjelaskan pesan-pesan para dewa di langit. Dari nama Hermes inilah konsep hermeneutic kemudian digunakan. Kata hermeneutika yang diambil dari peran Hermes adalah sebuah ilmu dan seni menginterpretasikan sebuah teks.
Persoalan utama hermeneutika terletak pada pencarian makna teks, apakah makna obyektif atau makna subyektif. Perbedaan penekanan pencarian makna pada ketiga unsur hermeneutika: penggagas, teks dan pembaca, menjadi titik beda masing-masing hermeneutika. Titik beda itu dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori hermeneutika: hermeneutika teoritis, hermeneutika filosofis, dan hermeneutika kritis.  Pertama, hermeneutika teoritis. Bentuk hermeneutika seperti ini menitikberatkan kajiannya pada problem “pemahaman”, yakni bagaimana memahami dengan benar. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki penggagas teks.  Kedua, hermeneutika filosofis. Problem utama hermeneutika ini bukanlah bagaimana memahami teks dengan benar dan obyektif sebagaimana hermeneutika teoritis. Problem utamannya adalah bagaimana “tindakan memahami” itu sendiri. Ketiga, hermeneutika kritis. Hermeneutika ini bertujuan untuk mengungkap kepentingan di balik teks. hermeneutika kritis menempatkan sesuatu yang berada di luar teks sebagai problem hermeneutiknya.
2.      Latar Belakang Munculnya Filsafat Hermeneutika
Werner G. Jeanrond menyebutkan tiga milieu penting yang berpengaruh terhadap timbulnya hermeneutika sebagai suatu ilmu atau teori interpretasi:
Pertama milieu masyarakat yang terpengaruh oleh pemikiran Yunani. Kedua milieu masyarakat Yahudi dan Kristen yang menghadapi masalah teks kitab “suci” agama mereka dan berupaya mencari model yang cocok untuk intepretasi untuk itu. Ketigamilieu masyarakat Eropa di zaman Pencerahan (Enlightenment) berusaha lepas dari tradisi dan otoritas keagamaan dan membawa hermeneutika keluar konteks keagamaan.
3.      Perkembangan Filsafat Hermeneutika beserta para Tokohnya
Terdapat sejumlah tokoh yang memberi sumbangan dalam perkembangan filsafat hermeneutika, di antaranya adalah:
§  Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834).
Schleiermacher, seorang Protestan dan pernah menjadi Rektor di Universitas Berlin pada tahun 1815-1816, digelar sebagai “the founder of General Hermeneutics.” Gelar tersebut diberikan karena  pemikirannya dianggap telah memberi nuansa baru dalam teori penafsiran. Materi kuliahnya “universal hermeneutic” menjadi rujukan Gadamer dan berpangaruh terhadap pemikiran Weber dan Dilthey. Ia dianggap sebagai filosof Jerman pertama yang terus menerus memikirkan persoalan-persoalan hermeneutika. Karena itu ia dianggap sebagai Bapak Hermeneutika modern dan juga pendiri Protestan Liberal.
Schleiermacher menjadikan persoalan hermeneutis sebagai persoalan universal dan mengajukan teori pemahaman yang filosofis untuk mengatasinya. Ia merubah makan hermeneutika dari sekedar kajian teks Bibel menjadi metode memahami dalam pengertian filsafat. Dalam pandangan Schleiermacher, tradisi hermeneutika filologis dan hermeneutika teologis bisa berinteraksi, yang membuka kemungkinan untuk mengembangkan teori umum mengenai pemahaman dan penafsiran.
§  Wilhelm Dilthey (1833-1911)
Wilhelm adalah penulis biografi Scleiermacher dan salah satu pemikir filsafat besar pada akhir abad  ke-19. Dia melihat hermeneutika adalah inti disiplin yang dapat digunakan sebagai fondasi bagi geisteswissenschaften (yaitu, semua disiplin yang memfokuskan pada pemahaman seni, aksi, dan tulisan manusia). Wilhelm Dilthey adalah seorang filosof, kritikus sastra, dan sejarawan asal Jerman.
Bagi filosof yang pakar metodologi ilmu-ilmu sosial ini, hermeneutika adalah “tehnik memahami ekspresi tentang kehidupan yang tersusun dalam bentuk tulisan”. Oleh karena itu ia menekankan pada peristiwa dan karya-karya sejarah yang merupakan ekspresi dari pengalaman hidup di masa lalu. Untuk memahami pengalaman tersebut intepreter harus memiliki kesamaan yang intens dengan pengarang. Bentuk kesamaan dimaksud merujuk kepada sisi psikologis Schleiermacher.
§  Martin Heidegger (1889-1976)
Latar belakang intelektualitas Heidegger berada dibawah pengaruh fisika, metafisika dan etika Aristotle yang di interpretasikan oleh Husserl dengan metode fenomenologinya. Pendiri fenomenologi, Edmund Husserl, adalah guru dan sekaligus kawan yang paling dihormati dan disegani oleh Heidegger. Pemikiran Heidegger sangat kental dengan nuansa fenomenologis, meskipun akhirnya Heidegger mengambil jalan menikung dari prinsip fenomenologi yang dibangun Husserl.

ALIRAN FILSAFAT PRAGMATISME

Pragmatisme berasal dari dua kata yaitu pragma dan isme. Pragam berasal dari bahasa Yunani yang berarti tindakan atau action. Sedangkan pengertian isme sama dengan pengertian isme – isme yang lainnya yang merujuk pada cara berpikir atau suatu aliran berpikir. Dengan demikian filsafat pragmatisme beranggapan bahwa fikiran itu mengikuti tindakan.
Menurut aliran ini,  hakikat dari realiatas adalah segala sesuatu yang dialami oleh manusia. Ia berpendapat bahwa inti dari realiatas adalah pengalam yang dialami manusia. Ini yang kemudian menjadi penyebab bahwa pragmatisme lebih memperhatikan hal yang bersifat keaktualan sehingga berimplikasi pada penentuan nilai dan kebenaran. Dengan demikian nilai dan kebenaran dapat ditentukan dengan melihat realitas yang terjadi di lapangan dan tidak lagi melihat faktor – faktor lain semisal dosa atau tidak. Hal ini senada dengan apa yang dikataka James, “Dunia nyata adalah dunia pengalaman manusia.”
Tokoh-tokoh Filsafat Pragmatisme
1.William James (1842-1910 M)
William James lahir di New York pada tahun 1842 M, anak Henry James, Sr. ayahnya adalah orang yang terkenal, berkebudayaan tinggi, pemikir yang kreatif. Selain kaya, keluarganya memang dibekali dengan kemampuan intelektual yang tinggi. Keluarganya juga menerapkan humanisme dalam kehidupan serta mengembangkannya. Ayah James rajin mempelajari manusia dan agama. Pokoknya, kehidupan James penuh dengan masa belajar yang dibarengi dengan usaha kreatif untyuk menjawab berbagai masalah yang berkenaan dengan kehidupan.
2.John Dewey (1859-1952 M)
Sekalipun Dewey bekerja terlepas dari William James, namun menghasilkan pemikiran yang menampakkan persamaan dengan gagasan James. Dewey adalah seorang yang pragmatis. Menurutnya, filsafat bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia serta lingkungannya atau mengatur kehidupan manusia serta aktifitasnnya untuk memenuhi kebutuhan manusiawi.

ALIRAN FILSAFAT FENOMENOLOGI


      1. Hakekat Fenomenologi
Fenomenologi (Inggris: Phenomenology) berasal dari bahasa Yunani phainomenondan logos. Phainomenon berarti tampak dan phainen berarti memperlihatkan. Sedangkan logos berarti kata, ucapan, rasio, pertimbangan. Dengan demikian, fenomenologi secara umum dapat diartikan sebagai kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak. Lorens Bagus memberikan dua pengertian terhadap fenomenologi. Dalam arti luas, fenomenologi berarti ilmu tentang gejala-gejala atau apa saja yang tampak. Dalam arti sempit, ilmu tentang gejala-gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita. 
Sebagai sebuah arah baru dalam filsafat, fenomenologi dimulai oleh Edmund Husserl (1859 – 1938), untuk mematok suatu dasar yang tak dapat dibantah, ia memakai apa yang disebutnya metode fenomenologis. Ia kemudian dikenal sebagai tokoh besar dalam mengembangkan fenomenologi. Namun istilah fenomenologi itu sendiri sudah ada sebelum Husserl. Istilah fenomenologi secara filosofis pertama kali dipakai oleh J.H. Lambert (1764). Dia memasukkan dalam kebenaran (alethiologia), ajaran mengenai gejala (fenomenologia). Maksudnya adalah menemukan sebab-sebab subjektif dan objektif ciri-ciri bayangan objek pengalaman inderawi (fenomen).
Fenomenologi merupakan metode dan filsafat. Sebagai metode, fenomenologi membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga kita sampai pada fenomena yang murni. Fenomenologi mempelajari dan melukiskan ciri-ciri intrinsik fenomen-fenomen sebagaimana fenomen-fenomen itu sendiri menyingkapkan diri kepada kesadaran. Kita harus bertolak dari subjek (manusia) serta kesadarannya dan berupaya untuk kembali kepada “kesadaran murni”. Untuk mencapai bidang kesadaran murni, kita harus membebaskan diri dari pengalaman serta gambaran kehidupan sehari-hari. Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan esensial mengenai apa yang ada. Dengan demikian fenomenologi dapat dijelaskan sebagai metode kembali ke benda itu sendiri (Zu den Sachen Selbt), dan ini disebabkan benda itu sendiri merupkan objek kesadaran langsung dalam bentuk yang murni. 
Secara umum pandangan fenomenologi bisa dilihat pada dua posisi. Pertama ia merupakan reaksi terhadap dominasi positivisme, dan kedua, ia sebenarnya sebagai kritik terhadap pemikiran kritisisme Immanuel Kant, terutama konsepnya tentang fenomena–noumena. Kant menggunakan kata fenomena untuk menunjukkan penampakkan sesuatu dalam kesadaran, sedangkan noumena adalah realitas (das Ding an Sich) yang berada di luar kesadaran pengamat. Menurut Kant, manusia hanya dapat mengenal fenomena-fenomena yang nampak dalam kesadaran, bukan noumena yaitu realitas di luar yang kita kenal.
Sebagai reaksi terhadap positivisme, filsafat fenomenologi berbeda dalam memandang objek, bila dibandingkan dengan filsafat positivisme, baik secara ontologis, epistemologis, maupun axiologis. Dalam tataran ontologism, yang berbicara tentang objek garapan ilmu, filsafat positivisme memandang realitas dapat dipecah-pecah menjadi bagian yang berdiri sendiri, dan dapat dipelajari terpisah dari objek lain, serta dapat dikontrol. Sebaliknya, filsafat fenomenologi memandang objek sebagai kebulatan dalam konteks natural, sehingga menuntut pendekatan yang holistik, bukan pendekatan partial.
2. Fenomenologi Sebagai Metode Ilmu
Fenomenologi berkembang sebagai metode untuk mendekati fenomena-fenomena dalam kemurniannya. Fenomena disini dipahami sebagai segala sesuatu yang dengan suatu cara tertentu tampil dalam kesadaran kita. Baik berupa sesuatu sebagai hasil rekaan maupun berupa sesuatu yang nyata, yang berupa gagasan maupun kenyataan. Yang penting ialah pengembangan suatu metode yang tidak memalsukan fenomena, melainkan dapat mendeskripsikannya seperti penampilannya tanpa prasangka sama sekali.
Tugas utama fenomenologi menurut Husserl adalah menjalin keterkaitan manusia dengan realitas. Bagi Husserl, realitas bukan suatu yang berbeda pada dirinya lepas dari manusia yang mengamati. Realitas itu mewujudkan diri, atau menurut ungkapan Martin Heideger, yang juga seorang fenomenolog: “Sifat realitas itu membutuhkan keberadaan manusia”. Filsafat fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya dengan cara menerobos semua fenomena yang menampakkan diri menuju kepada bendanya yang sebenarnya. Usaha inilah yang dinamakan untuk mencapai “Hakikat segala sesuatu”. Untuk itu, Husserl mengajukan dua langkah yang harus ditempuh untuk mencapai esensi fenomena, yaitu metode epoche dan eidetich vision.
Kata epoche berasal dari bahasa Yunani, yang berarti: “menunda keputusan” atau “mengosongkan diri dari keyakinan tertentu”. Epoche bisa juga berarti tanda kurung (bracketing) terhadap setiap keterangan yang diperoleh dari suatu fenomena yang nampak, tanpa memberikan putusan benar salahnya terlebih dahulu. Fenomena yang tampil dalam kesadaran adalah benar-benar natural tanpa dicampuri oleh presupposisi pengamat. Untuk itu, Husserl menekankan satu hal penting: Penundaan keputusan. Keputusan harus ditunda (epoche) atau dikurung dulu dalam kaitan dengan status atau referensi ontologis atau eksistensial objek kesadaran. 
3. Kontribusi Fenomenologi Terhadap Dunia Ilmu Pengetahuan
Konsep ini penting artinya, sebagai usaha memperluas konteks ilmu pengetahuan atau membuka jalur metodologi baru bagi ilmu-ilmu sosial serta untuk menyelamatkan subjek pengetahuan. Edmund Husserl, dalam karyanya, The Crisis of European Science and Transcendental Phenomenology, menyatakan bahwa konsep “dunia kehidupan” (lebenswelt ) merupakan konsep yang dapat menjadi dasar bagi (mengatasi) ilmu pengetahuan yang tengah mengalami krisis akibat pola pikir positivistik dan saintistik, yang pada prinsipnya memandang semesta sebagai sesuatu yang teratur – mekanis seperti halnya kerja mekanis jam. Akibatnya adalah terjadinya 'matematisasi alam' dimana alam dipahami sebagai keteraturan (angka-angka).  

Tiga Filosofi Air


Tiga Filosofi Air: Karena Air Tahu Kemana Ia Bermuara
Seperti hujan sore ini, dari pinggir jalan saya memerhatikan aliran air yang memenuhi selokan. Kemudian ia mengalir entah ke mana. Setelah hujan agak reda, air pun mengalir dari daun dan jatuh kembali ke tanah. Sepertinya karena terlalu memerhatikan perilaku air, menurut saya ada tiga filosofi air yang amat mulia dan analog dengan perilaku manusia. Mau tahu filosofinya:
          Pertama, air selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Kalau saya tidak salah ingat, dahulu saya mendapatkan pelajaran mengenai sifat-sifat air ketika duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Salah satu sifat tersebut adalah perilaku air yang selalu mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Kecuali di zaman modern ketika mesin pompa sudah ditemukan, pada zaman dahulu tentu amat susah untuk menaikkan air dari tanah ke permukaan yang lebih tinggi.
Saya yakin, Tuhan menciptakan air agar manusia bisa mengambil pelajaran darinya. Menurut saya, sifat air yang selalu mengalir ke tempat rendah analog dengan sikap rendah hati pada manusia. Air selalu ingin berguna bagi makhluk hidup yang ada di bawahnya. Ibarat pemimpin, air adalah pemimpin yang melayani. Jika ia berada di posisi teratas, maka ia akan menjadi pelayan bagi orang-orang yang membutuhkan di bawahnya. Apalagi air identik dengan sumber kehidupan. Maka tidak salah jika sifat pertama ini saya analogikan dengan pemimpin yang melayani. Pemimpin yang melayani adalah sumber kesejahteraan bagi masyarakat yang ia pimpin.
          Kedua, air selalu mengisi ruang-ruang yang kosong. Cobalah Anda buat sebuah kotak kedap air yang bersekat tapi memiliki celah. Kemudian isi kotak tersebut dengan air. Air pasti akan berusaha memenuhi kotak tersebut dengan wujudnya. Perlahan tapi pasti, melalui celah antar sekat, air akan mengisi kotak tersebut hingga penuh.
Manusia yang baik adalah manusia yang berusaha mengisi kekosongan hati dari manusia lainnya. Dengan meniru sifat air, kita seharusnya bisa menjadi penolong bagi manusia lainnya yang sedang bermasalah atau kekurangan. Tentu, jika sifat air yang kedua ini benar-benar kita teladani, kita selalu memiliki waktu untuk melengkapi kehidupan manusia lainnya. Artinya, kita menjadi manusia yang senang menolong dan suka berbagi. Karena sebenarnya, batin kita terisi setelah memenuhi kekurangan dari saudara kita.
          Ketiga, air selalu mengalir ke muara. Tak peduli seberapa jauh jaraknya dari muara, air pasti akan tiba di sana. Sebenarnya saya tidak setuju dengan orang yang menggunakan pepatah “hiduplah mengalir seperti air”untuk menguatkan gaya hidup yang tidak punya arah dan serampangan. Justru sebenarnya dengan kita meniru air yang mengalir, kita seharusnya punya visi kehidupan. Hal utama yang patut diteladani dari perjalanan air menuju muara adalah sikapnya yang konsisten. Bayangkan, ada berapa banyak hambatan yang dilalui oleh air gunung untuk mencapai muara? Mungkin ia akan singgah di sungai, tertahan karena batu, kemudian bisa saja masuk ke selokan. Tapi toh akhirnya ia tetap mengalir dan tiba di muaranya. Waktu tempuh air untuk sampai ke muara sangat bervariasi. Ada yang hanya beberapa hari, tapi ada juga yang beberapa minggu. Patut diingat, hal terpenting bukanlah waktu tempuh yang akan dilalui, tapi seberapa besar keyakinan untuk menuju muara atau visi atau impian yang akan kita gapai.

Filosofi Payung

BELAJAR DARI PAYUNG..!!! (Sebuah kajian filosofis dari payung yang dikaitkan dengan ilmu pengetahuan)
Segala hal dalam hidup ini diciptakan Tuhan dengan muatan filosofis. Hal tersebut dimaksudkan membuat manusia sebagai makhluk yang berakal untuk mengkaji sesuatu bukan hanya melalui indra penglihatan melainkan juga dari pikiran. Interpretasi dari hasil pengamatan dan pemikiran terhadap sesuatu tersebut akhirnya bermuara pada meningkatnya keimanan manusia terhadap Tuhannya. Tidak terkecuali payung. Payung adalah sebuah alat yang melindungi tubuh kita dari guyuran air hujan. Kenapa payung.? Bukankah payung buatan manusia? Memang benar, payung memang diciptakan oleh manusia, namun bukankah sebab dan akibat munculnya alat yang disebut payung adalah hasil dari ciptaan Tuhan. Mineral untuk membuat payung berasal dari.?? (Tuhan). Hujan diciptakan oleh?? (Tuhan).
Dalam artikel ini tidak akan membahas panjang lebar mengenai seluk beluk terjadinya payung, namun sesuai judul di atas kami akan membahas segi filosofis dari bentuk payung yang akan dikaitkan dengan kekhasan sebuah ilmu pengetahuan. Dari segi rangka, bentuk payung memiliki sebuah gagang (tiang) ditengah yang ukurannya lebih besar. Kemudian terdapat beberapa gagang penyangga kecil – kecil yang berada di atasnya serta terdpat kain yang menyelubungi payung. Berdasarkan hal tersebut dapat kita kaji muatan filosofi dari bentuk rangka payung.
1. Gagang (tiang) Besar
Gagang besar merupakan analogi sifat istimewa dari sebuah ilmu pengetahuan yang merupakan bagian eksplisit awal mula kenapa gagang besar tersebut bisa disebut payung pada akhirnya, maksudnya adalah setiap sesuatu yang disebut ilmu pengetahuan harus memiliki sebuah kekhasan atau keistimewaan yang berbeda dari ilmu yang lain. Contohnya adalah suatu ilmu pengetahuan disebut biologi karena didalamnya terdapat ilmu yang mempelajari segala hal mengenai makhluk hidup maka dari itu disebut “biologi” (bios = makhluk hidup, logos = ilmu). Contoh lain adalah fisika, suatu ilmu disebut fisika karena didalamnya terdapat ilmu yang mempelajari gejala – gejala ilmiah yang ada di masyarakat. Contoh selanjutnya adalah akutansi, suatu ilmu dikatakan akutansi karena didalamnya terdapat ilmu khas yang mempelajari tentang seluk beluk akutansi. Dari beberapa contoh tersebut, akan timbul sebuah pertanyaan, kenapa kekhasan atau keistimewaan dalam ilmu pengetahuan begitu penting?? Karena dengan adanya kekhasan atau keistimewaan ilmu pengetahuan akan membuat status keilmuan kita lebih kuat, lebih dalam dan lebih spesifik, itulah kenapa dalam dunia kerja, kita mengenal kata “profesional”. Semua contoh yang kami paparkan merupakan beberapa contoh kecil betapa pentingnya sebuah kekhasan atau keistimewaan sebuah ilmu pengetahuan sebagai tonggak dan pegangan dalam mempelajari sebuah ilmu pengetahuan. Payung akan selalu disebut payung bila memiliki gagang (tiang) yang berada di tengah sebagai penopang dan pegangan bagi si pemilik payung.
  
               2. Gagang (tiang) Kecil
Muatan filosofis selanjutnya adalah pada gagang kecil yang menopang gagang besar yang menjadi tonggak berdirinya payung. Gagang kecil ini berfungsi mengepakkan bagian atas payung yang kemudian dapat memperlihatkan fungsi payung sebagaimana mestinya. Makna gagang kecil ini secara filosofis dari sebuah keilmuan adalah sebagai ilmu pendukung atau bisa juga sebagai spesifikasi ilmu yang lebih dalam dari induk ilmu (cabang ilmu). Kembali mengambil contoh biologi, ilmu biologi (dianalogikan sebagai gagang besar dalam payung) tidak dapat menjalankan fungsinya secara maksimal sebagai sebuah ilmu tanpa adanya cabang ilmu (dianalogikan sebagai gagang kecil dalam payung

3. Kain Penutup Payung
Terakhir adalah kajian filosofis dari kain penutup rangka payung yang kami analogikan sebagai regulasi atau peraturan. Tanpa kain penutup yang menutupi rangka bagian atas payung, payung tidak akan berguna. Pemilik payung tetap saja akan kebasahan oleh air hujan. Sejalan dengan ilmu pengetahuan tanpa regulasi, ilmu pengetahuan tidak akan berfungsi dengan baik. Regulasi dimaksudkan untuk melindungi atau mengekslusifkan ilmu pengetahuan agar nantinya aplikasi ilmu tersebut benar – benar dipegang oleh ahlinya dalam dunia pekerjaan. Misalnya Psikologi, Psikologi jelas memiliki kekhasan / keistimewaan ilmu (gagang besar dalam payung) dan ilmu pendukung (gagang kecil dalam payung) serta memiliki regulasi (kain penutup dalam payung) yang jelas dalam hal keprofesiannya, sehingga tidak sembarang orang bisa menjadi psikolog.
Sehingga pada akhirnya ketiga aspek dalam payung tersebut dapat memberi kita sebuah pelajaran bahwa sebuah ilmu pengetahuan harusnya memiliki ilmu khas yang dapat membedakan ilmu tersebut dengan ilmu lainnya, ilmu pendukung yang memberi dukungan ilmu dengan porsi yang tepat, dan regulasi yang jelas.

Minggu, 18 Desember 2016

[INDEX] DAFTAR TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN

Nama          : Ahmad Jajuli Zadulhaq 
Nim             : 2227150024
Kelas           : 3A (PGSD)
  1. Apasih bahagia itu?? Karena siapa kita berbahagia??
  2. Apasi fungsi belajar filsafat?? Iniii dia jawabannya.
  3. Aliran Empirisme Menurut John Locke  
  4. Allah menjadi penolong orang teraniaya
  5. 7 Bahaya Membentak Anak (Memusnahkan Sel Otak dll)
  6. 4 hal persoalan menurut imanuel kant.
  7. Apasih Perkembangan dan Pertumbuhan?? Apakah perbedaan perkembangan dan pertumbuhan tersebut?
  8. Apasih Pembelajaran Tematik, adakah Landasan Filosofinya?
  9. Apasih paham Rasionalisme???
  10. Cara Berpikir Filsuf
  11. Apasih wawancara?? Dan tujuan wawancara itu apa?? Kepo banget siih
  12. Apasih yang menjadi persoalaan filsafat?
  13. Apasiih filsafat???
  14. Aspek dan Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Peserta Didik
  15. Pak Bagus… selalu baguss di jamin bagus.
  16. Belajar dari Filosofi air
  17. Sejarah Untirta
  18. Arti Logo Untirta 
  19. Benar itu Belum Tentu Baik dan Baik itu Belum Tentu Benar
  20. Masa jabatan Kepala Sekolah/ Madrasah
  21. Cara Nabi Menghindari  Maksiat
  22. Etika berkendara
  23. Etika Guru Terhadap Anak Didik
  24. Filosifi Ban Sepeda
  25. Filosofi 5 jari manusia
  26. Filosofi kaca mobil
  27. Filosofi kapal laut
  28. Filosofi Pancasila
  29. Fungsi Bahasa sebagai Alat Komunikasi
  30. Hakekat Pendidikan

  31. 8 pola hidup sehat
  32. Jangan Menyerah (Motivasi)
  33. Arti Lambang Kota Serang
  34. JIKA ILMU TIDAK SELALU DIASAH ( KISAH SAUDAGAR KAYA & PENEBANG POHON )
  35. Karakteristik Belajar Anak Usia Sekolah Dasar (SD)
  36. Kebutuhan Peserta Didik menurut Maslow
  37. Kenali Karakteristik Perkembangan Peserta Didik di Sekolah Dasar
  38. Kenali Tahap-Tahap dan Ciri Perkembangan Anak
  39. Filsafat Patah Hati
  40. Kiat menjadi guru yang baik, menyenangkan, dikagumi dan di hormati oleh peserta didik.
  41. Logika dagang
  42. Menciptakan Suasana Sekolah Dasar Yang Kondusif
  43. Debus Kesenian Bela Diri Banten
  44. Mengajar dan mendidik, apasih perbedaanya??
  45. Menyukseskan imlementasi Kurikulum 2013
  46. Metodologi mempelajari filsafat
  47. SUZUKI SATRIA FU 150 LOVERS (SSFL INDONESIA)

  48. My hobbi is cornering. Cornering itu apa ? apakah perlu ?
  49. Tips & Trik dalam Cornering
  50. Ngeleeeees Teruussss.gak maju-maju looh…!!!!
  51. Pandangan Epistemologi Perenialisme
  52. Pandangan Islam Mengenai Filsafat
  53. Pandangan Ontologi Perenialisme
  54. Pemikiran Kritisisme Immanuel Kant
  55. PENGARUH GADGET DI KEHIDUPAN SEHARI – HARI
  56. Pengertian Aliran Filsafat Progresivisme
  57. Si Jati Yang Memiliki Filosofi
  58. Pengertian Artikel dan Cirinya
  59. Pengertian Filsafat Menurut para Ahli
  60. Pandangan Aksiologi Perenialisme
  61. Pentingnya Mencuci Tangan
  62. Perkelahian Dalam Diri
  63. Proses terjadinya Bunyi Bahasa
  64. Pernahkah kalian jenuh ketika belajar??ini cara mengatasinya
  65. Psikologi perkembangan
  66. Filsafat Patah Hati
  67. Ranah penilaian hasil belajar peserta didik
  68. Sejarah asal usul bahasa indonesia.
  69. Aliran Pluralisme
  70. Shalat sebagai Kebutuhan atau Beban???
  71. Siapa sih manusia?? Yuk kenali manusia melalui filsafat.
  72. Siapa sih Peserta Didik???
  73. Sikap Ilmiah
  74. Siswa sulit membaca?? Ini masalahnya.!!!
  75. Stop smoking, start vaping
  76. Strategi pembelajaran inquiry
  77. Strategi Pembelajaran Konstektual
  78. Teori-Teori tentang Hakikat Perkembangan Peserta Didik
  79. Tips Menumbuhkan Semangat Belajar Anak
  80. Udah tau perubahan kurikulum 2013 apa saja dari KTSP?? Ini perubahannya.!!
  81. Visi Misi Pendidikan Nasional
  82. Visi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
  83. KENALPOT RACING BISA MENYELAMATKAN KALIAN LOH!!!
  84. Filosofi Payung
  85. Tiga Filosofi Air: Karena Air Tahu Kemana Ia Bermuara
  86. ALIRAN FILSAFAT PRAGMATISME
  87. ALIRAN FILSAFAT HERMEUTIKA
  88. Sertifikat Seminar dan Bedah Buku